richmondexecutiveaviation.com – Pemerintah Iran menegaskan tidak akan melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat di tengah meningkatnya konflik militer di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ali Larijani yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Larijani menyampaikan sikap tersebut melalui unggahan di platform X pada Senin, 2 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki rencana untuk membuka kembali jalur negosiasi dengan Washington.
“Baca Juga: Trump Prediksi Perang AS-Iran Berlangsung 4 Minggu”
Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas sejumlah laporan media internasional yang menyebut Iran berupaya memulai kembali dialog dengan Amerika Serikat. Larijani membantah laporan tersebut secara langsung.Menurutnya, klaim bahwa Iran mencoba memulai kembali negosiasi adalah informasi yang tidak benar. Ia menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak akan melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat dalam situasi saat ini.
Larijani Bantah Laporan Negosiasi Melalui Oman
Larijani secara khusus menanggapi laporan media yang menyebut adanya upaya diplomasi baru dari Iran. Laporan tersebut sebelumnya dikutip oleh Al Jazeera dari pemberitaan The Wall Street Journal. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Iran mencoba melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat melalui jalur diplomasi tidak langsung lewat Oman. Namun Larijani menolak klaim tersebut.
Ia menegaskan bahwa tidak ada upaya dari pihak Iran untuk membuka kembali pembicaraan dengan Washington. Larijani menyatakan secara tegas bahwa Iran tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini memperjelas posisi Iran di tengah meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel. Sikap tersebut juga menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi hambatan besar.
Kritik Keras Larijani terhadap Presiden Donald Trump
Dalam unggahan terpisah, Larijani juga melontarkan kritik tajam kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menilai kebijakan Trump telah memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah. Larijani menuduh Trump membawa kawasan tersebut ke dalam kekacauan melalui kebijakan yang disebutnya sebagai ilusi kosong. Ia juga menilai keputusan militer Amerika Serikat justru meningkatkan risiko bagi pasukan Amerika sendiri.
Menurut Larijani, slogan politik Trump yang dikenal sebagai “America First” kini berubah menjadi kebijakan yang lebih mengutamakan kepentingan Israel. Ia menuduh pemerintah Amerika Serikat mengorbankan pasukan militernya demi kepentingan tersebut. Larijani juga menuding Trump telah menempatkan tentara Amerika dan keluarga mereka dalam risiko melalui keputusan politik yang dinilai tidak realistis.
Operasi Militer AS-Israel Picu Eskalasi Konflik
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat setelah operasi militer gabungan yang diluncurkan pada 28 Februari 2026. Operasi tersebut menargetkan sejumlah lokasi strategis di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan beberapa pejabat senior Iran, termasuk Ali Khamenei. Informasi ini memicu kemarahan di dalam negeri Iran serta meningkatkan ketegangan regional.
Operasi militer tersebut dianggap sebagai salah satu eskalasi konflik paling besar dalam beberapa tahun terakhir di kawasan Timur Tengah. Banyak negara mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak konflik tersebut. Serangan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan konflik yang lebih luas melibatkan negara-negara lain di kawasan.
“Baca Juga: Terncent Tarik Pendanaan dari Proyek Highguard”
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Negara Teluk
Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal. Target serangan dilaporkan berada di beberapa wilayah negara Teluk yang memiliki instalasi militer terkait Amerika Serikat. Serangan tersebut mengakibatkan korban di pihak militer Amerika Serikat. Laporan awal menyebutkan tiga anggota militer Amerika tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.
Serangan balasan ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang tengah berlangsung. Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kini semakin tegang dengan meningkatnya aktivitas militer. Komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi tersebut. Banyak pihak mendesak agar upaya diplomasi kembali diupayakan untuk mencegah konflik yang lebih luas.




Leave a Reply