richmondexecutiveaviation.com – Jarang ada game yang justru mencapai puncak perhatian ketika masa perjalanannya hampir berakhir. Namun itulah yang terjadi pada Destiny 2. Setelah bertahun-tahun menjadi salah satu game live service terbesar di industri, Bungie akhirnya merilis Monument of Triumph, update terakhir yang menandai akhir perjalanan Destiny 2. Alih-alih kehilangan perhatian, update tersebut justru memicu gelombang pemain dalam jumlah besar yang kembali memenuhi server. Antusiasme komunitas bahkan melampaui ekspektasi banyak pihak dan menghasilkan pencapaian yang cukup ironis. Destiny 2 yang telah memasuki babak penutup justru berhasil mencatat jumlah pemain Steam lebih tinggi dibanding Marathon, game shooter baru Bungie yang dipersiapkan sebagai masa depan studio tersebut.
“Baca Juga: Xbox Showcase Ungkap Tanggal Rilis Castlevania: Belmont’s Curse”
Ribuan Pemain Kembali untuk Merasakan Akhir Perjalanan Destiny 2
Peluncuran Monument of Triumph menjadi momen emosional bagi komunitas Destiny. Setelah bertahun-tahun mengikuti kisah para Guardian dan berbagai ekspansi besar yang dirilis Bungie, banyak pemain memutuskan kembali untuk menyaksikan akhir perjalanan game tersebut secara langsung.
Lonjakan pemain yang terjadi sangat besar. Ribuan pemain langsung masuk ke dalam game pada hari peluncuran update terakhir tersebut. Sebagian ingin menyelesaikan aktivitas terakhir yang tersedia, sementara yang lain hanya ingin memberikan penghormatan kepada franchise yang telah menemani mereka selama bertahun-tahun.
Besarnya antusiasme itu bahkan menyebabkan berbagai kendala teknis. Banyak pemain melaporkan kesulitan masuk ke server karena antrean panjang dan sejumlah error yang muncul akibat lonjakan trafik yang tidak terduga.
Situasi tersebut menjadi bukti bahwa Destiny 2 masih memiliki basis pemain yang sangat loyal. Meskipun Bungie telah mengumumkan akhir perjalanan game tersebut, banyak pemain ternyata belum siap untuk benar-benar meninggalkan dunia yang telah mereka jelajahi selama lebih dari satu dekade.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa akhir sebuah game live service tidak selalu identik dengan berkurangnya minat pemain. Dalam kasus Destiny 2, justru sebaliknya. Penutupan game menjadi momentum yang menyatukan komunitas dalam skala yang sangat besar.
Destiny 2 Lampaui Rekor Puncak Pemain Marathon di Steam
Dampak dari lonjakan pemain tidak hanya dirasakan di dalam game. Situs pemantau statistik SteamDB juga dilaporkan mengalami kesulitan mengikuti tingginya trafik ketika ribuan pemain mencoba memantau jumlah pemain Destiny 2 secara real-time.
Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah perbandingan dengan Marathon, game extraction shooter terbaru Bungie yang kini menjadi fokus utama perusahaan.
Berdasarkan data SteamDB, Marathon sebelumnya mencatat puncak pemain sekitar 88 ribu pemain di Steam. Angka tersebut sempat dianggap cukup baik untuk sebuah game baru yang masih berada di tahap awal pengembangannya.
Namun, hanya sekitar 20 menit setelah Monument of Triumph dirilis, Destiny 2 berhasil melampaui pencapaian tersebut. Jumlah pemain aktifnya menembus angka lebih dari 100 ribu pemain di Steam.
Pencapaian tersebut terasa ironis. Sebab, Destiny 2 merupakan game yang sedang memasuki fase akhir, sementara Marathon justru diposisikan sebagai masa depan Bungie.
Perbandingan ini segera menjadi bahan diskusi di komunitas. Banyak pemain mulai mempertanyakan apakah Bungie terlalu cepat mengalihkan perhatian dari Destiny menuju Marathon.
Basis Pemain Konsol Membuat Popularitas Destiny Masih Sangat Besar
Angka pemain Steam sebenarnya belum menggambarkan keseluruhan kekuatan Destiny sebagai franchise. Selama bertahun-tahun, Destiny dikenal memiliki komunitas yang sangat besar di konsol, khususnya PlayStation dan Xbox.
Artinya, jumlah pemain yang kembali untuk mencoba Monument of Triumph kemungkinan jauh lebih besar dibanding data yang terlihat di Steam. Hal ini berbeda dengan Marathon yang hingga kini memiliki basis pemain PC yang lebih dominan.
Kondisi tersebut membuat banyak penggemar kembali mengangkat pertanyaan lama mengenai masa depan franchise Destiny. Apakah Bungie benar-benar siap meninggalkan seri tersebut demi fokus pada Marathon?
Pertanyaan itu semakin relevan mengingat Marathon saat ini baru memasuki Season 2 dan belum lama menyelesaikan periode free week. Meski mendapatkan dukungan penuh dari Bungie, popularitas game baru tersebut belum mampu menandingi ikatan emosional yang dimiliki komunitas terhadap Destiny.
Bagi banyak pemain, Destiny bukan sekadar game live service. Franchise ini telah menjadi bagian penting dari pengalaman bermain mereka selama bertahun-tahun.
“Baca Juga: Socket AM5 Dapat Dukungan AMD hingga Tahun 2029″
Komunitas Masih Berharap Bungie Mengembangkan Destiny 3
Besarnya antusiasme terhadap Monument of Triumph sejalan dengan gerakan komunitas yang sebelumnya mendorong Bungie untuk melanjutkan franchise Destiny.
Sebuah petisi yang meminta pengembangan Destiny 3 dilaporkan berhasil mengumpulkan lebih dari 350 ribu tanda tangan. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih banyak pemain yang ingin melihat dunia Destiny terus berkembang melalui seri baru.
Keinginan tersebut bukan hanya didorong oleh nostalgia. Banyak pemain percaya bahwa semesta Destiny masih memiliki potensi cerita dan gameplay yang belum sepenuhnya dieksplorasi.
Lonjakan pemain pada update terakhir ini juga dapat dilihat sebagai bentuk pesan dari komunitas kepada Bungie. Mereka menunjukkan bahwa minat terhadap Destiny belum hilang, bahkan ketika game tersebut sedang memasuki fase penutup.
Meski demikian, keputusan mengenai masa depan franchise tetap berada di tangan Bungie dan Sony. Hingga saat ini, kedua perusahaan belum memberikan informasi resmi mengenai kemungkinan hadirnya Destiny 3 atau proyek Destiny baru lainnya.
Untuk saat ini, Monument of Triumph menjadi pengingat bahwa sebuah franchise besar tidak mudah dilupakan begitu saja. Bahkan ketika Bungie berusaha membangun masa depan melalui Marathon, Destiny 2 masih mampu membuktikan bahwa warisannya tetap hidup dan dicintai oleh jutaan pemain di seluruh dunia.




Leave a Reply