richmondexecutiveaviation.com – Vine, platform media sosial yang pernah populer pada awal 2010-an dengan video berdurasi 6 detik. Akan kembali beroperasi dengan nama baru, diVine. Pengumuman ini mengejutkan banyak pihak. Mengingat Vine sempat tutup pada 2017 setelah tidak mampu bersaing dengan platform lain seperti Instagram dan TikTok. Kembalinya platform ini merupakan inisiatif dari Jack Dorsey, mantan CEO Twitter, melalui yayasan non-profit miliknya, and Other Stuff.
“Baca Juga: Escape From Tarkov Minta Maaf, Tanggapi Masalah Perilisan Game”
Dukungan Dana dari Jack Dorsey Melalui Yayasan Non-Profit
Menurut laporan TechCrush, diVine kembali hadir berkat dana yang didukung oleh Jack Dorsey. Dorsey, yang dikenal dengan perannya dalam menciptakan Twitter. Ingin memberi kehidupan baru pada Vine, tetapi dengan pendekatan yang lebih otentik dan bebas dari konten buatan AI. Dengan menggunakan teknologi dari Guardian Project. DiVine akan memverifikasi bahwa video yang diunggah adalah asli dan tidak dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Dorsey berharap platform ini dapat menghidupkan kembali pengalaman media sosial yang lebih manusiawi.
Proyek ini Dikelola oleh Evan Henshaw-Plath, Eks Karyawan Twitter
Proyek diVine dikelola oleh Evan Henshaw-Plath, yang lebih dikenal sebagai Rabble, seorang mantan karyawan Twitter. Henshaw-Plath memiliki pengalaman yang cukup luas dalam dunia pengembangan platform media sosial, sehingga diVine diperkirakan akan dibangun dengan pondasi teknis yang kuat. DiVine juga berencana untuk mengarsipkan lebih dari 100.000 video dari era Vine lama dan memberi kesempatan pada kreator untuk mengunggah ulang konten mereka yang belum dipulihkan.
Penghapusan Konten AI: Menjaga Keaslian dan Otentisitas
Salah satu fitur unik yang dihadirkan oleh diVine adalah larangan terhadap konten yang dibuat menggunakan AI. Dorsey dan tim pengembangan berkomitmen untuk menghadirkan platform yang mengutamakan keaslian dan pengalaman yang lebih manusiawi. Dalam upaya untuk menghindari penyebaran konten yang dihasilkan oleh AI. DiVine akan menggunakan teknologi verifikasi video dari Guardian Project untuk memastikan bahwa video yang diunggah merupakan hasil rekaman asli dari ponsel, bukan video yang dihasilkan oleh perangkat AI.
Sambutan Positif dari Pengguna dan Kreator Media Sosial
Kembalinya Vine dengan nama diVine mendapatkan sambutan yang sangat positif dari pengguna media sosial. Terutama di kalangan generasi milenial dan kreator yang merindukan masa kejayaan Vine. Banyak yang merasa nostalgik dengan era sosial media pra-pandemi dan antusias terhadap ide Dorsey untuk menciptakan platform yang lebih bebas dari dominasi algoritma dan konten AI. Bagi kreator yang pernah aktif di Vine, mereka juga bisa mengklaim kembali video-video lama mereka yang sempat hilang setelah platform tersebut tutup.
“Baca Juga: Intel Ungkap Keunggulan Wi-Fi 8: Lebih Handal, Jangkau Lebih Jauh”
Masa Depan diVine: Potensi Ruang Kreatif Tanpa Dominasi Algoritma
Dorsey berharap bahwa diVine dapat menjadi ruang yang lebih kreatif bagi para konten kreator. Di mana mereka dapat berekspresi tanpa kekhawatiran terhadap algoritma yang mengontrol konten mereka. Selain itu, diVine juga bertujuan untuk menawarkan platform yang lebih transparan dan adil bagi para pengguna dan kreator. Meskipun masih banyak yang menunggu tanggal pasti rilisnya, inisiatif ini diprediksi akan menjadi angin segar di dunia media sosial, yang kini didominasi oleh platform besar dengan algoritma yang sering kali mengurangi jangkauan organik konten.
Dengan upaya menjaga keaslian dan mencegah penyebaran konten buatan AI, diVine berpotensi menjadi tempat berkumpul yang lebih otentik bagi pengguna yang ingin menikmati konten media sosial yang lebih manusiawi.




Leave a Reply